
Foto tersebut merupakan dokumentasi latihan pertama kali di bangsal dalam persiapan ujian praktik. Pada latihan awal ini, saya menyadari masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Salah satu kendala yang dialami adalah sikap yang terlalu terburu-buru saat memindahkan properti, sehingga beberapa properti tidak diletakkan sesuai tempatnya. Hal ini membuat suasana latihan menjadi kurang teratur.Selain itu, saat melakukan blocking kami sempat bertabrakan dan bingung harus bergerak ke arah mana. Saya juga merasa belum bisa berpindah dengan tenang dan masih terlihat grasak-grusuk. Hal tersebut menunjukkan bahwa kami belum benar-benar memahami posisi dan alur pergerakan di panggung.Masalah lain yang muncul adalah komunikasi antaranggota yang belum jelas. Kami masih kebingungan menentukan siapa yang akan membawa properti, apalagi saat itu jumlah anggota belum lengkap dan masih ada beberapa adegan yang akhirnya tidak digunakan. Kurangnya koordinasi membuat latihan kurang efektif.Dari pengalaman latihan pertama di bangsal ini, saya belajar bahwa komunikasi dan kerja sama yang mendalam sangatlah penting. Setiap anggota perlu saling mendengarkan saat berdiskusi agar tidak terjadi miskomunikasi. Dengan kerja sama yang baik dan penyelesaian masalah secara bersama-sama, proses latihan ke depannya dapat berjalan lebih lancar dan hasilnya lebih maksimal.Dari latihan pertama kali di bangsal tersebut, saya belajar beberapa nilai penting seperti tanggung jawab, kerja sama, dan komunikasi yang baik. Selain itu, jika dikaitkan dengan lima Keutamaan Vinsensian, pengalaman ini mengajarkan kesederhanaan, yaitu bersikap apa adanya dan tidak merasa paling benar saat berdiskusi; kerendahan hati, yaitu mau menerima kritik dan mengakui kesalahan ketika terjadi miskomunikasi; kelembutan hati, yaitu saling memahami dan tidak menyalahkan teman saat terjadi kesalahan blocking atau penataan properti; matiraga, yaitu menahan diri agar tidak terburu-buru dan lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada ego pribadi; serta keselamatan jiwa-jiwa, yang dapat dimaknai sebagai usaha membangun kebersamaan dan suasana yang baik agar tujuan bersama dapat tercapai dengan damai dan penuh makna.

Foto tersebut diambil saat latihan ujian praktik di Vinsensian Hall. Pada latihan itu, saya mengalami beberapa kesulitan, terutama saat menggunakan properti kipas. Kipas yang saya gunakan sering kali belibet, sulit dibuka, dan masih terlipat saat melakukan gerakan tarian sehingga mengganggu penampilan. Selain itu, pada scene demo, gerakan dan tempo tarian antaranggota belum seragam. Waktu dan ritmenya masih berbeda-beda sehingga terlihat berantakan dan kurang kompak.
Melihat hal tersebut, kami tidak tinggal diam. Kami berdiskusi bersama untuk mencari solusi agar penampilan menjadi lebih rapi. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengurangi jumlah orang di scene tersebut agar gerakan lebih fokus dan seragam. Beberapa teman dialihkan untuk membantu bagian properti, terutama dalam memindahkan barang-barang dari scene 5 ke scene 7 karena jumlah propertinya cukup banyak, sementara petugas yang membawa masih sedikit. Meskipun sempat mengalami kesulitan, kami terus berlatih untuk menyamakan gerakan, tempo, dan kekompakan agar hasilnya lebih maksimal.
Dari proses tersebut, saya belajar bahwa kerja sama dan komunikasi sangat penting dalam sebuah tim. Masalah tidak akan selesai jika hanya dipendam, tetapi harus dibicarakan bersama. Saya juga belajar untuk lebih sabar dan tekun dalam berlatih, terutama saat menghadapi kendala pada properti yang saya gunakan. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya jika dihadapi dengan sikap terbuka dan mau bekerja sama.
Nilai yang dapat saya pelajari antara lain tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan ketekunan. Jika dikaitkan dengan nilai Keutamaan Vinsensian, pengalaman ini mengajarkan kerendahan hati, yaitu mau menerima masukan dan mengakui kekurangan; kelembutan hati, yaitu saling memahami ketika terjadi kesalahan; serta matiraga, yaitu menahan diri dan berusaha lebih keras demi kepentingan bersama. Selain itu, ada juga nilai kesederhanaan, karena kami belajar untuk fokus pada tujuan utama tanpa memaksakan hal yang justru membuat penampilan kurang maksimal. Melalui latihan ini, saya semakin memahami bahwa proses yang penuh tantangan justru membentuk kami menjadi pribadi yang lebih dewasa dan kompak.

Foto tersebut diambil saat latihan ujian praktik di kelas. Pada latihan itu, saya menyadari masih ada kekurangan dalam diri saya, terutama dalam menentukan ekspresi saat menari. Karena masih fokus menghafal gerakan, saya belum bisa menikmati tarian dengan sepenuhnya. Akibatnya, ekspresi wajah saya saat harus terlihat senang masih berubah-ubah, kadang tersenyum tetapi kadang kembali datar. Hal ini membuat penampilan terasa kurang konsisten dan kurang menyatu dengan karakter yang dibawakan.Selain itu, pada bagian demo kami merasa properti yang digunakan masih kurang sehingga suasana terlihat kurang hidup. Kami pun berdiskusi untuk mencari cara agar penampilan lebih ramai dan menarik. Tidak hanya itu, kami juga melakukan pendalaman karakter agar setiap gerakan dan ekspresi terasa lebih realistis, bukan sekadar menghafal gerakan. Proses ini membantu saya memahami bahwa menari bukan hanya soal teknik, tetapi juga penghayatan.Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa penguasaan materi harus disertai dengan penghayatan agar penampilan terasa lebih natural. Saya juga belajar untuk tidak hanya fokus pada hafalan, tetapi mencoba menikmati prosesnya agar ekspresi bisa muncul dengan tulus. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa hasil yang baik membutuhkan proses yang sungguh-sungguh, diskusi yang terbuka, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.Nilai yang saya pelajari antara lain tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, dan ketekunan. Dalam nilai Keutamaan Vinsensian, pengalaman ini mengajarkan kerendahan hati, yaitu mau mengakui kekurangan diri dan menerima masukan; kesederhanaan, yaitu fokus pada tujuan tanpa berlebihan; serta matiraga, yaitu berusaha mengendalikan diri dan berlatih lebih giat demi hasil yang lebih baik. Melalui latihan ini, saya semakin memahami bahwa proses pembelajaran membentuk saya menjadi pribadi yang lebih sabar, reflektif, dan siap berkembang.

Foto tersebut diambil saat latihan di ruang Francis dalam rangka persiapan ujian praktik. Pada latihan itu, kami memutuskan untuk mengganti properti kipas menjadi pita untuk penari “From Now On” karena beberapa kelas lain ternyata sudah menggunakan pita terlebih dahulu. Namun, setelah dicoba, pita yang kami gunakan ternyata terlalu kecil dan kurang terlihat dari jauh sehingga efek visualnya kurang maksimal.Kami kemudian berdiskusi dan berinisiatif untuk membuat pita yang lebih panjang agar gerakannya lebih terlihat dan panggung terasa lebih hidup. Meskipun kami menyadari bahwa pita yang lebih panjang akan sedikit lebih berat dan mungkin lebih sulit dikendalikan saat menari, kami tetap memilih untuk mencobanya terlebih dahulu. Kami tidak ingin langsung menyerah hanya karena ada kendala. Proses mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki menjadi bagian penting dalam latihan tersebut.Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa setiap perubahan pasti membawa tantangan baru. Namun, tantangan tersebut tidak seharusnya membuat kami mundur, melainkan mendorong kami untuk lebih kreatif dan berani mencoba. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa kegigihan dan sikap tidak mudah menyerah sangat dibutuhkan dalam mencapai hasil yang maksimal.Nilai yang saya pelajari antara lain kreativitas, kerja sama, tanggung jawab, dan ketekunan. Jika dikaitkan dengan Keutamaan Vinsensian, pengalaman ini mengajarkan kesederhanaan, yaitu fokus pada tujuan utama tanpa mencari hal yang berlebihan; kerendahan hati, yaitu mau menerima kenyataan bahwa ide awal perlu diubah; serta matiraga, yaitu berani menghadapi kesulitan dan tetap berusaha meskipun ada tantangan. Melalui latihan ini, saya semakin memahami bahwa proses yang penuh usaha akan membentuk karakter yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan.

Foto tersebut diambil pada hari H saat kami akhirnya menampilkan pagelaran ujian praktik. Setelah melalui latihan berkali-kali, diskusi yang tidak sedikit, serta berbagai tantangan selama proses persiapan, kami berhasil menampilkan yang terbaik. Perasaan saya saat itu campur aduk. Sebelum tampil, saya merasa sangat deg-degan dan banyak ketakutan muncul di pikiran, seperti takut lupa gerakan atau terjadi kesalahan di panggung. Namun, ketika penampilan dimulai, semuanya dapat berjalan cukup lancar dan sesuai dengan yang telah kami latih.Meskipun begitu, tetap ada kendala kecil. Saat scene demo, kami ingin menggunakan face painting, tetapi sempat kesulitan karena tidak tahu letaknya di mana. Situasi tersebut cukup membuat panik, apalagi waktu tampil sudah dekat. Namun, kami berusaha tetap tenang dan mencarinya pelan-pelan hingga akhirnya ditemukan. Setelah itu, teman saya membantu memakaikannya sehingga saya bisa segera bersiap untuk tampil. Di backstage pun kami saling membantu, seperti membantu mengganti baju, mengambilkan kostum, dan memastikan properti sudah siap. Kebersamaan itu membuat saya merasa tidak sendirian dalam menghadapi tekanan.Dari pengalaman hari H tersebut, saya belajar bahwa kerja keras dan proses yang panjang tidak akan mengkhianati hasil. Rasa takut itu wajar, tetapi tidak boleh mengalahkan usaha yang sudah dilakukan. Pesan yang dapat diambil adalah bahwa ketekunan, keberanian, dan kebersamaan akan membantu kita melewati momen-momen menegangkan.Nilai yang saya pelajari antara lain kerja sama, tanggung jawab, kepedulian, dan ketenangan dalam menghadapi tekanan. Jika dikaitkan dengan Keutamaan Vinsensian, pengalaman ini mencerminkan kelembutan hati, karena kami saling membantu tanpa menyalahkan; kerendahan hati, karena mau menerima bantuan dan bekerja bersama; serta matiraga, karena mampu mengendalikan rasa takut dan tetap fokus pada tujuan bersama. Melalui momen ini, saya semakin memahami bahwa ujian praktik bukan hanya tentang tampil di panggung, tetapi juga tentang kebersamaan dan proses pembentukan karakter.











