

Selama uprak ini saya menjadi sutradara utama untuk drama Dr. Lo Siaw Ging – Live Over Wealth.

Sebagai sutradara, tanggung jawab saya adalah memimpin semuanya dari awal sampai akhir. Saya harus memahami jalan cerita secara menyeluruh, mengerti pesan yang ingin disampaikan, mengatur alur, mengatur emosi setiap adegan, dan memastikan setiap bagian berjalan sesuai konsep. Saya juga harus memastikan semua orang mengerti perannya masing-masing dan tahu apa yang harus diperbaiki.
Namun peran saya tidak berhenti di situ. Selain menjadi sutradara, saya juga membantu banyak bagian lain dalam produksi ini. Saya dan Ong ikut menulis skrip bersama. Saya juga membuat lirik lagu From Now On dan lagu demo, sekaligus membuat contoh desain konsepnya. Karena ada empat lagu yang perlu dibuat liriknya, saya membagi tugas dengan Mandy. Saya mengerjakan dua lagu dan Mandy juga dua lagu. Kami saling membantu supaya semuanya selesai tepat waktu.

Selain itu, saya juga membuat desain feeds Instagram untuk meet the characters supaya promosi drama kami terlihat rapi dan menarik.

Saya juga membuat videotron berupa lyric video untuk lagu-lagu yang ditampilkan. Itu membutuhkan waktu dan tenaga karena harus menyesuaikan lirik dengan timing lagu dan visual yang sesuai. Saya menggunakan aplikasi Alight Motion.



Dalam bagian tari, saya membuat seluruh koreografi untuk empat lagu dalam drama ini. Saya mengajarkan gerakan ke teman-teman satu per satu, merapikan supaya kompak, dan memastikan energinya sesuai dengan suasana lagu. Saya juga membuat formasi khusus untuk lagu demo yang melibatkan banyak orang, jadi saya harus benar-benar memperhatikan posisi dan perpindahan mereka. Karena saya sudah sangat capek mengatur semuanya sendiri, saya akhirnya meminta bantuan sie koreo untuk membantu merapikan gerakan anak-anak yang lain. Dari situ saya belajar bahwa kerja tim itu penting, dan saya tidak harus melakukan semuanya sendirian.




Selain itu, saya juga mendesain empat bendera untuk kebutuhan adegan demo. Saya menggambarkan desain untuk kain putih dan koran besar sepanjang 13 meter yang akan digunakan dalam adegan tersebut. Itu juga membutuhkan pemikiran supaya visualnya kuat dan sesuai dengan pesan cerita.
Selama latihan, saya hampir selalu ikut hadir. Saya berusaha konsisten walaupun capek. Saya juga membawa dua container besar untuk dipakai kelas menyimpan barang-barang uprak supaya tidak tercecer. Selain itu saya membawa lima kursi bakso untuk properti. Saya juga selalu memesankan studio kalau kelas ingin latihan, supaya tempatnya pasti ada dan tidak bentrok dengan kelas lain.


Untuk memindahkan properti yang akan dibuat latihan di studio, saya juga membantu dengan menggunakan mobil saya.
Saya juga sering melakukan konsultasi dan berbicara dengan banyak guru. Saya meminta masukan, menerima evaluasi, dan mencoba memperbaiki kekurangan. Walaupun kadang ada perbedaan pendapat dan tekanan, saya tetap berusaha melakukan yang terbaik sampai akhir.
Diskusi Alur Cerita 26/09/25

Dalam foto ini, para penulis naskah sedang berkumpul di ruang perpustakaan untuk membahas alur cerita Dr. Lo Siaw Ging – Live Over Wealth. Saat itu, diskusi dipimpin oleh Aline, sebagai koordinator dari sie penulis naskah.
Kesulitan yang saya alami saat itu adalah kondisi fisik saya yang benar-benar capek. Bisa dilihat saya tidak memakai seragam karena saya sedang di tengah-tengah latihan Clique untuk DBL, jadi hampir setiap hari pulang malam. Saya kurang tidur dan sulit fokus. Saat diskusi, saya dimarahi karena dianggap kurang memahami alur cerita. Padahal sebenarnya saya baru membaca sebagian karena waktu saya sangat terbatas dan saya benar-benar kelelahan.
Cara saya menangani kesulitan itu adalah saya tidak membalas dengan emosi. Saya memilih diam, lalu setelah itu saya membaca ulang skrip lebih detail di rumah walaupun dalam keadaan capek. Saya mencoba mengejar ketertinggalan supaya saat diskusi berikutnya saya bisa lebih siap dan tidak mengecewakan tim.
Konsultasi Naskah dan Alur ke Pembimbing

Dalam foto ini saya sedang dalam kondisi sakit. Saya pusing sekali karena memikirkan banyak hal secara bersamaan. Selain mengurus uprak sebagai sutradara, saya juga menghadapi tugas sekolah, ulangan, karya tulis ilmiah, pendaftaran universitas di Taiwan, belajar untuk tes TOCFL, serta konsultasi dengan guru-guru. Semua itu datang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Kesulitan yang saya hadapi adalah saya merasa tertekan setiap hari. Saya merasa diburu buru sekali oleh Aline untuk menyelesaikan naskah dan mengkonsultasikannya kepada para guru, padahal sebentar saya juga sedang berusaha.
Setelah itu, saya sempat memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai sutradara dan hendak memberikan posisi itu kepada Aline, karena dia dari awal sudah ingin sekali jadi sutradara. Karena seringnya ketidakhadiran saya karena DBL, Aline juga akhirnya sering melampaui saya dalam banyak hal, jadi yasudah saya pikir tidak apa kalau dia aja yang jadi sutradara. Setelah saya tawarkan, kenyataannya dia tidak mau dan malah marah dan menangis, saya juga jadi bingung, tapi waktu itu teman teman saya semua mendukung saya karena kita bertengkar di depan kelas.
Namun cara saya mengatasinya adalah dengan tidak mengambil keputusan saat emosi. Saya mencoba menenangkan diri, berdoa, dan mengingat kembali tanggung jawab saya. Saya juga dengar teman teman maunya saya aja yang jadi sutradara, jadi saya mencoba menenangkan diri dan satu persatu saya urus perlahan tapi pasti.
Latihan Scene 2/12/26 – 10/12/25



Di foto ini adalah latihan pertama kami secara serius, membahas scene per scene. Saya hadir setiap hari dan mencoba mengatur jalannya latihan. Saya mengarahkan pemain, memperbaiki dialog, dan menyusun blocking.
Kesulitannya adalah kadang kadang ada yang terlambat, jadi jadwal latihan menjadi tidak efektif, akhirnya saya membuat jadwal untuk setiap hari nya.


Kesulitan lainnya adalah skrip tidak sepenuhnya saya yang buat, sedangkan Aline, sebagai koordinator scriptwriter tidak pernah hadir karena pelatihan UTBK, hanya sekali atau dua. Akhirnya banyak keputusan yang harus saya ambil sendiri. Saya takut kalau keputusan saya tidak disukai dan menimbulkan konflik lagi.
Cara saya menangani situasi ini adalah dengan berani mengambil tanggung jawab. Saya berdiskusi dengan Ong yang membantu saya, lalu kami putuskan bersama. Walaupun ada rasa takut, saya belajar untuk percaya diri terhadap keputusan saya sebagai sutradara.
Foto “The People Behind” 06/01/26

Di foto ini adalah sesi foto “The People Behind” yang saya rancang untuk kebutuhan promosi Instagram. Saya yang memikirkan konsep desain feed dan timeline posting.
Sebelum foto ini, saya kepikiran kalau sebaiknya foto dilakukan di bulan Desember saja supaya saat liburan bisa langsung diedit dan diposting. Tapi kendalanya, saya sudah kasih tahu satu minggu sebelumnya, lalu tiba-tiba saya dimarahi Ethan karena katanya saya memberi tahu terlalu mendadak. Dia bahkan membicarakan saya ke semua orang dan bilang saya tidak jelas. Saya sedih sekali. Saya merasa seperti terus disalahkan. Aline dan Ethan menurut saya sering menekan saya. Ethan juga suka menertawakan saya. Saya merasa semua hal yang saya lakukan itu lucu di mata dia. Padahal kan saya juga tidak bisa menguasai semua sie, saya sedang berusaha, kalau kamu tidak mau bantu, yasudah jangan menertawakan yang saya buat meskipun tidak sebagus itu.
Dalam foto ini saya mengawasi, mengatur, supaya tidak membutuhkan waktu terlalu lama
Latihan Setelah Libur Panjang 10/01/26 – 19/01/26

Di foto ini saya sedang review ulang tarian demo yang melibatkan banyak orang. Saya mengatur formasi, menyamakan gerakan, dan memastikan energi tarian sesuai konsep.
Kesulitannya adalah saya sudah sangat capek secara fisik. Mengatur banyak orang itu tidak mudah. Gerakan sering tidak kompak dan saya harus mengulang berkali-kali.
Cara saya mengatasinya adalah dengan meminta bantuan sie koreo. Saya belajar bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus melakukan semuanya sendiri. Meminta bantuan bukan berarti lemah, tetapi supaya hasilnya lebih maksimal.
Piloks Properti Tambahan


Dalam gambar ini, kita sedang memiloks properti tambahan. Kendalanya adalah hampir hujan, jadi kita cepat cepat supaya segera selesai dan tidak kehujanan.
Latihan di Studio dan Evaluasi 20/01/26-11/02/26










Foto-foto ini waktu saya latihan di studio. Saya mengatur, lalu kami coba runthrough, merapikan peran dan membiasakan semuanya supaya lebih siap. Kendalanya masih banyak evaluasi dan kadang ada perbedaan pendapat. Contohnya setelah evaluasi bersama guru, ada scene yang full bahasa Inggris, tapi reporternya tiba-tiba bahasa Indonesia. Dari awal saya sudah bilang sebaiknya reporternya Inggris saja supaya konsisten. Tapi Aline dan Ethan tidak mau, katanya tidak nyambung. Padahal guru sudah menasihati juga. Ada juga adegan pasien yang tiba-tiba ikut marah, padahal itu urusan owner dan preman. Beberapa teman juga kontra dan bilang ke saya, “Kita tidak harus selalu nurut sama guru, Mon.” Bahkan saya sempat dibilang tidak berpendirian karena mau mengikuti saran guru. Akhirnya saya mengalah supaya tidak memperpanjang konflik.
Mengatur Lighting 10/02/26-11/02/26

Di video ini saya sedang mengatur lighting bersama Kayne. Sebenarnya semuanya berjalan baik. Tapi kendalanya di awal, sebelum atur lighting beneran, ternyata mereka sudah membuat konsep lighting. Saya memang masuk grup, tapi saya kira mereka masih diskusi karena saya tidak di-tag untuk mengecek. Besoknya di sekolah, Ethan langsung bilang, “Mon, kamu udah ngecek ini? Pasti belum kan?” sambil ketawa. Seolah-olah saya tidak ada harganya. Saya akhirnya bilang memang belum karena tidak diberi tahu untuk mengecek. Setelah saya cek, saya hanya bertanya baik-baik soal spotlight. Tapi dia menjawab dengan nada yang menurut saya tidak sopan, bahkan bilang, “Untung aja yang lighting bukan kamu.” Waktu itu saya memang sedang capek sekali dan banyak masalah di rumah, jadi saya langsung menangis di sekolah karena benar-benar pusing dan merasa tidak dihargai.
Tapi saya senang karena pada akhirnya lighting nya sangat bagus dan sesuai dengan apa yang saya mau. Meskipun 2 hari itu saya sampai sore karena menunggu antrean kelas.
Cat Baju Demo 09/02/26


Di foto ini setelah latihan malam, saya masih pergi ke rumah Mike untuk mengecat baju demi menciptakan suasana demo yang lebih bagus.
Kesulitannya jelas kelelahan fisik karena sudah malam. Tetapi saya tetap melakukannya karena saya ingin hasil drama ini maksimal.
Setelah Uprak 14/02/26


Setelah hari-H uprak selesai, ternyata tanggung jawab saya belum benar-benar selesai. Di hari Sabtu setelah uprak, saya tetap datang ke sekolah untuk memastikan semuanya clear. Saya mengecek kelas, memastikan tidak ada properti yang tertinggal, mengambil kembali barang-barang seperti container, kursi bakso, kain, bendera, dan properti lainnya. Saya juga memastikan kelas kembali bersih seperti semula supaya tidak mengganggu kelas lain dan supaya nilai kami setelahnya tetap baik.
Kesulitannya sebenarnya lebih ke saya sangat lelah, karena properti harus dibersihkan sebelum jam 9 pagi, jadi saya tetap harus bangun pagi. Setelah berminggu-minggu latihan, begadang, mengatur ini itu, dan menghadapi banyak tekanan, rasanya saya ingin istirahat saja. Tapi saya tahu kalau saya tidak datang untuk membereskan semuanya, nanti bisa jadi berantakan dan berdampak ke nilai kelas. Selain itu, mengumpulkan kembali barang-barang tidak mudah karena jumlahnya banyak dan tersebar.
Cara saya mengatasinya adalah dengan tetap memegang tanggung jawab sampai akhir. Saya sadar bahwa menjadi sutradara bukan hanya tentang tampil di depan saat pertunjukan, tetapi juga memastikan semuanya selesai dengan rapi setelah acara berakhir. Saya memilih datang walaupun capek, membereskan satu per satu, memastikan kelas bersih, dan semua properti kembali pada tempatnya.

Dari seluruh proses ini, saya belajar bahwa menjadi sutradara bukan hanya soal memimpin orang lain, tetapi juga soal tanggung jawab, ketahanan mental, dan konsistensi. Saya belajar mengatur waktu di tengah kesibukan lain, belajar menerima kritik, belajar menahan emosi, dan belajar tetap berdiri walaupun lelah.
