
Pagelaran drama ini merupakan bagian dari ujian praktik kami yang mengangkat kisah inspiratif seorang dokter asal Solo, Jawa Tengah yang mendedikasikan dirinya kepada pelayanan tanpa harapan timbal balik, yaitu Lo Siauw Ging. Drama ini menggambarkan perjuangan beliau dalam melayani masyarakat tanpa membedakan latar belakang, serta nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi dalam profesinya sebagai dokter.
Dalam pagelaran ini, saya berperan sebagai pembaca sinopsis dalam bahasa Mandarin, seorang pasien, serta pembawa bendera pada adegan demonstrasi. Salah satu kesulitan yang saya hadapi secara pribadi adalah mendalami karakter dan memahami peran saya secara lebih mendalam. Untuk mengatasinya, saya membaca kembali naskah secara berulang, berdiskusi dengan teman-teman, serta mencoba membayangkan situasi yang dialami tokoh dalam drama tersebut. Secara bersama (sekelas), tantangan terbesar adalah membangun kerja sama dan menyatukan pemahaman agar makna drama dapat tersampaikan dengan jelas kepada penonton. Kami harus menyamakan persepsi tentang pesan utama yang ingin disampaikan, membagi peran dengan adil, serta berlatih secara konsisten agar alur cerita mengalir dengan baik. Melalui komunikasi dan latihan bersama, kami akhirnya dapat menampilkan drama dengan lebih terstruktur dan penuh penghayatan.
Bagi saya, terdapat pula nilai Vinsensian yang dapat saya petik selama menjalankan realisasi drama dan berproses bersama, yaitu kesederhanaan, kelembutan hati, dan mati raga. Dari segi drama kami itu sendiri, nilai kesederhanaan terlihat dari sikap dr. Lo Siauw Ging yang melayani dengan tulus tanpa mencari pengakuan atau keuntungan pribadi. Ia menunjukkan bahwa menjadi pribadi yang sederhana berarti fokus pada pelayanan dan kebutuhan sesama. Sementara itu, kelembutan hati tercermin dalam cara ia memperlakukan pasien dengan penuh empati, kesabaran, dan perhatian. Saya menyadari dari sosok dr. Lo sendiri bahwa sejatinya pelayanan yang sejati berakar pada hati yang peduli dan sikap rendah hati dalam setiap tindakan. Dan dalam prosesnya pun, saya juga menyadari adanya nilai mati raga. Saya menyadarkan diri saya berulang-ulang mengenai pentingnya komunikasi, inisiatif jika dibutuhkan, dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, semua demi lancarnya proses latihan, gladi, maupun pertunjukan hari-h itu sendiri.
Dengan diselenggarakannya pagelaran ini, saya tidak hanya belajar tentang cara membawakan sebuah drama semata, namun tentang kerja sama, tanggung jawab, dan pentingnya memahami, menyadari, serta menerapkan nilai-nilai yang saya dapatkan selama berproses bersama terhadap kehidupan sehari-hari pula.
