Ujian praktik dr. Lo Siauw Ging telah selesai. Tepuk tangan, sambutan meriah, dan buket bunga telah kami terima. Namun setelah itu, lampu kembali dipadamkan, kostum disimpan ke dalam lemari, dan ruangan perlahan kembali sunyi. Dalam keheningan tersebut, kami menyadari bahwa proses ini bukan hanya tentang pementasan yang berhasil ditampilkan di atas panggung, melainkan tentang perjalanan panjang yang kami lalui bersama.
Refleksi ini saya tuliskan untuk menggambarkan proses yang kami jalani, mulai dari perencanaan, konflik, hingga penyelesaian masalah yang membentuk kerja sama kami sebagai satu kelas. Setiap foto merekam satu bagian penting dari proses tersebut. Inilah kisah saya mengarungi perjalanan dr. Lo Siauw Ging bersama kelas XII D2 sebagai Koordinator Script Writer.

Proses ini dimulai pada bulan September, ketika grup koordinator dibentuk dan kami mulai berdiskusi mengenai pembagian anggota serta tugas masing-masing. Sejak awal, muncul tantangan karena sebagian besar anggota koor merupakan individu dengan jiwa kepemimpinan, ide, dan pemikiran yang kuat. Hal tersebut sempat memicu konflik, salah satunya saat menentukan lokasi pengambilan gambar untuk trailer, hingga terjadi perdebatan cukup panas di kelas.
Namun, konflik tersebut dapat diselesaikan dengan kepala dingin melalui dialog terbuka. Kami keluar dari kelas, duduk melingkar, dan saling menyampaikan pendapat serta unek-unek secara jujur. Dari proses itu, kami belajar untuk mendengarkan dan menghargai perbedaan. Setelahnya, kerja sama antar koor menjadi jauh lebih solid. Setiap anggota menunjukkan inisiatif tinggi dan tidak hanya berfokus pada tugas divisinya sendiri, melainkan saling membantu demi kelancaran keseluruhan proses.
Sebagai tim penulis naskah, kami juga menghadapi tantangan sejak awal karena harus bekerja lebih cepat dibanding divisi lain. Pemilihan tokoh utama menjadi proses yang cukup panjang, dimulai dari beberapa tokoh alternatif yang akhirnya ditolak hingga kami memutuskan untuk mengangkat kisah dr. Lo Siauw Ging. Penulisan naskah dilakukan melalui beberapa pertemuan, baik secara luring maupun daring. Kami membagi tugas penulisan per adegan, kemudian melakukan peninjauan dan diskusi bersama di akhir. Proses ini mengajarkan kami pentingnya kerja tim, koordinasi, dan keterbukaan terhadap masukan.

Proses dekorasi memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Meskipun terdapat sie perkap dan dekorasi, hampir seluruh siswa berusaha membantu ketika memungkinkan. Kami bersama-sama mengecat properti, membuat kereta dan motor, membawa perlengkapan yang dibutuhkan, hingga menata detail kecil di panggung. Tidak jarang kami berada di sekolah hingga sore menjelang malam.
Meskipun melelahkan, proses dekorasi menjadi salah satu bagian yang paling berkesan karena dilakukan bersama-sama. Kami juga menghadapi kendala teknis, seperti cat pilox yang luntur serta faktor cuaca yang tidak menentu. Pernah pada bulan Januari, saat proses pengecatan berlangsung, hujan turun secara tiba-tiba sehingga kami harus berlari kembali masuk ke dalam gedung. Dari pengalaman ini, kami belajar tentang kerja sama, ketahanan, serta kemampuan beradaptasi terhadap situasi yang tidak terduga.

Pada bulan Januari, tim mulai mempersiapkan trailer dan rencana publikasi. Tim publikasi telah menyusun konsep awal, dan saya turut membantu dalam penyesuaian konsep agar selaras dengan naskah. Proses publikasi meliputi pembuatan trailer, rekaman reporter, serta pengambilan foto dan video untuk kebutuhan promosi dan hitung mundur di media sosial.
Dalam proses ini, kami berpacu dengan waktu dan ide. Perbedaan pendapat sempat muncul, baik terkait konsep trailer maupun jadwal pengambilan gambar. Setiap individu memiliki pandangan masing-masing, namun melalui diskusi bersama, kami berhasil menggabungkan ide-ide tersebut menjadi satu konsep yang utuh. Proses pengeditan trailer juga sempat menimbulkan kepanikan karena tenggat waktu yang cukup mepet. Namun, berkat kerja sama dan usaha bersama, trailer berhasil diselesaikan tepat waktu.

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia teater, saya merasa bangga dapat mengajak para aktor memasuki dunia teater yang mungkin masih baru bagi sebagian besar dari mereka. Proses akting dimulai dari pembagian peran, pembacaan naskah, pendalaman karakter, latihan per adegan, hingga runthrough. Setelah setiap runthrough, saya bersama sutradara melakukan evaluasi untuk perbaikan.
Sebagai pelatih akting, saya bertanggung jawab mengarahkan aktor dalam hal blocking, ekspresi, gestur, artikulasi, dan intonasi suara. Dalam proses ini, banyak perubahan yang dilakukan, baik perubahan kecil maupun besar, demi menyempurnakan pementasan. Salah satu tantangan terbesar adalah ketika kami hampir kehilangan seluruh naskah akibat permasalahan hak cipta musik. Pada saat itu, kami dihadapkan pada pilihan sulit untuk mengubah naskah secara keseluruhan dalam waktu yang sangat terbatas. Namun, dengan dorongan dari berbagai pihak dan keberanian untuk memperjuangkan hasil kerja kami, masalah tersebut dapat diatasi.
Saya merasa sangat bangga karena para aktor menunjukkan inisiatif tinggi dalam berlatih dan mendalami karakter masing-masing. Proses pendalaman karakter dilakukan dengan duduk melingkar dan menggali sisi pribadi setiap aktor agar dapat menyatu dengan tokoh yang diperankan. Keberhasilan proses ini tidak lepas dari kemauan dan usaha pribadi setiap aktor.

Setelah proses pendalaman karakter, latihan dilakukan secara intensif, terutama pada bulan Desember hingga Februari. Frekuensi latihan mencapai dua hingga tiga kali dalam seminggu. Latihan meliputi runthrough, evaluasi, serta pendalaman adegan tertentu yang membutuhkan perhatian khusus, seperti pada adegan pembuka dan beberapa adegan penting lainnya.
Meskipun jadwal latihan padat dan sering dilakukan hingga malam hari, seluruh siswa tetap menunjukkan komitmen yang tinggi. Mereka bersedia meluangkan waktu di tengah tugas dan ujian akademik, serta tetap menjaga semangat dan sportivitas. Bahkan pada hari libur, latihan tetap dilakukan, baik bersama-sama maupun secara mandiri di rumah masing-masing. Dari proses ini, kami belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan konsistensi.

Dalam setiap proses yang kami jalani, saya pribadi selalu menyertakan doa. Saya rutin datang ke Goa Maria untuk memohon kelancaran dan kekuatan. Setiap konflik yang terselesaikan, setiap masalah yang dapat dihadapi, dan setiap keberhasilan yang dicapai saya yakini tidak lepas dari penyertaan Tuhan.
Menjelang hari pementasan, kami juga melaksanakan novena secara rutin. Hal ini menjadi pengingat bahwa sebagai manusia kami hanya dapat merencanakan, sementara Tuhanlah yang memampukan segala sesuatu berjalan dengan baik. Doa menjadi sumber ketenangan dan pengharapan di tengah berbagai tantangan.

Pada hari pementasan, rasa gugup dan tegang sangat terasa sejak pagi. Proses rias, kostum, briefing, pendalaman karakter terakhir, hingga pemindahan properti dilakukan dengan penuh konsentrasi. Kami saling menguatkan dan memberi semangat satu sama lain. Doa dan fokus menjadi pegangan utama sebelum naik ke panggung.
Puji Tuhan, seluruh rangkaian pementasan dapat berjalan dengan baik tanpa kendala berarti. Proses panjang yang penuh usaha akhirnya membuahkan hasil. Di balik keberhasilan tersebut, terdapat banyak pihak yang bekerja keras dan berperan penting dalam mendukung kelancaran acara.
Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses ini. Terima kasih atas kerja keras, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. Mohon maaf apabila selama proses berlangsung terdapat perkataan atau tindakan saya yang kurang berkenan. Saya percaya pengalaman ini akan menjadi kenangan berharga bagi kita semua. Saya bangga dapat menjadi bagian dari kelas ini. Best performance in my heart.
dr. Lo Siauw Ging: Life Over Wealth? Sukses! Sukses! Sukses!
