Dr. Lo : Life Over Wealth

D-DAY PICTURES

Ujian praktik ini menjadi salah satu pengalaman paling melelahkan sekaligus paling membentuk dalam perjalanan belajar saya. Proyek ini tidak hanya menuntut kemampuan akademis, tetapi juga komitmen, kerja sama, pengendalian emosi, dan ketahanan fisik. Kami mengangkat kisah pengabdian dr. Lo Siaw Ging, seorang dokter yang memilih melayani dengan landasan kemanusiaan, bahkan ketika situasi sosial dan politik sedang tidak stabil. Mendalami kisah ini membuat saya tidak hanya memahami alur cerita, tetapi juga merenungkan arti tanggung jawab dan keberanian dalam kehidupan nyata.
Dalam pementasan, saya memerankan beberapa karakter yang memiliki sudut pandang berbeda. Saya berperan sebagai pasien yang membela dr. Lo Siaw Ging ketika ia mendapat tekanan dari preman. Adegan ini menggambarkan bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan kembali dalam bentuk solidaritas. Saya juga berperan sebagai dokter yang membantu di tengah kerusuhan tahun 1998. Peran ini menuntut saya menunjukkan ketenangan dan profesionalitas dalam situasi yang penuh ketegangan. Di sisi lain, saya juga memerankan pendemo yang menentang dr. Lo Siaw Ging. Memerankan tokoh ini justru menjadi tantangan terbesar karena saya harus mengekspresikan kemarahan dan tekanan massa tanpa kehilangan kesadaran bahwa di balik konflik tersebut ada nilai kemanusiaan yang sedang diperjuangkan. Dari sini saya belajar bahwa memahami sebuah peristiwa tidak bisa hanya dari satu sisi.
Selain tampil di panggung, saya juga bertanggung jawab dalam tim makeup. Peran ini ternyata sama pentingnya dengan peran akting. Saya dan tim harus memikirkan bagaimana riasan dapat membantu pendalaman karakter. Untuk tokoh preman, kami menonjolkan kesan keras dan tegas melalui detail wajah dan ekspresi visual. Untuk tokoh yang lebih tua, kami membuat efek penuaan agar penonton dapat memahami perubahan waktu dalam cerita. Dari proses ini saya belajar bahwa detail kecil sangat menentukan keberhasilan sebuah pementasan. Makeup bukan sekadar mempercantik, tetapi membangun identitas dan memperkuat karakter.
Proses latihan menjelang hari pelaksanaan menjadi bagian yang paling menguji. Karena waktu ujian semakin dekat, kami harus berlatih hingga malam hari. Rasa lelah sering muncul, konsentrasi menurun, bahkan kondisi fisik saya sempat drop hingga sakit. Namun situasi itu justru mengajarkan saya tentang arti komitmen. Saya menyadari bahwa tanggung jawab tidak berhenti ketika tubuh merasa lelah. Di saat yang sama, saya juga belajar pentingnya menjaga kesehatan, mengatur waktu istirahat, dan saling mendukung dalam tim agar tidak ada yang merasa berjuang sendirian.
Dari keseluruhan proses ini, saya memahami bahwa ujian praktik bukan sekadar pertunjukan satu hari. Ia adalah proses panjang yang melibatkan latihan, konflik kecil dalam tim, perbedaan pendapat, rasa jenuh, hingga akhirnya tumbuh rasa saling percaya. Saya belajar bahwa keberhasilan bukan hasil kerja individu, melainkan hasil kolaborasi. Setiap peran, baik di depan panggung maupun di balik layar, memiliki kontribusi yang sama pentingnya.
Pengalaman ini membentuk saya menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih peka terhadap kerja sama, dan lebih menghargai proses. Ujian praktik ini tidak hanya menguji kemampuan saya dalam berperan, tetapi juga menguji karakter, ketahanan, dan kesungguhan saya dalam menjalankan tanggung jawab sampai selesai.




