























Dalam ujian praktek saya memerankan tokoh sebagai pasien serta sebagai pendemo kontra yang menentang orang China di Indonesia (Dr. Lo). Dari seluruh rangkaian adegan, bagian yang paling berkesan dan paling bermakna bagi saya adalah ketika saya memerankan pasien yang berhadapan langsung dengan Dr. Lo. Peran ini tidak hanya menuntut saya untuk menunjukkan kondisi fisik yang lemah dan membutuhkan pertolongan, tetapi juga menampilkan pergulatan batin di tengah situasi konflik sosial.
Sebagai pasien, saya berada dalam posisi yang rentan. Saya harus menggambarkan ketakutan, ketidakberdayaan, sekaligus harapan kepada sosok dokter yang merawat saya. Namun, situasi menjadi semakin tegang ketika muncul ancaman dari preman yang mengganggu. Dalam adegan tersebut, saya mengusir preman sebagai bentuk keberanian untuk melindungi diri sendiri dan juga membela Dr. Lo. Momen ini menjadi titik penting karena menunjukkan bahwa meskipun dalam keadaan lemah, seorang pasien tetap memiliki keberanian.
Melalui interaksi dengan Dr. Lo, saya melihat secara langsung bagaimana ia digambarkan sebagai dokter yang penuh empati, tenang, dan profesional. Ia tidak terpancing emosi meskipun berada dalam situasi yang tidak aman. Ia tetap mengutamakan keselamatan dan kesembuhan pasien. Dari sudut pandang pasien, kebaikan dan keteguhan Dr. Lo terasa semakin nyata. Saya belajar bahwa kekuatan sejati tidak selalu ditunjukkan melalui kekerasan, melainkan melalui kesabaran, kasih, dan tanggung jawab terhadap sesama.
Peran pasien ini juga menuntut pendalaman karakter yang lebih serius. Saya harus memahami bagaimana rasanya berada dalam posisi seseorang yang membutuhkan pertolongan di tengah diskriminasi dan konflik sosial. Hal ini melatih empati saya, karena saya belajar menempatkan diri dalam situasi orang lain. Saya menyadari bahwa di balik setiap konflik, selalu ada manusia yang merasakan dampaknya secara langsung.
Menjadi sie perlengkapan memberi saya pembelajaran penting mengenai disiplin dan kerja sama. Persiapan ujian praktek yang berlangsung kurang lebih dua bulan menjadi tantangan tersendiri karena memakan banyak waktu dan tenaga. Kami harus membagi waktu antara latihan dan pembuatan properti seperti bendera, koran, serta perlengkapan lainnya.
Tantangan juga muncul saat pelaksanaan drama, terutama ketika terjadi blackout yang sangat singkat. Dalam kondisi panggung yang gelap, kami harus memindahkan properti dengan cepat tanpa dapat melihat dengan jelas. Situasi tersebut menuntut fokus dan kekompakan tim. Namun, justru dari situ saya semakin menyadari bahwa setiap bagian dalam pertunjukan memiliki peran penting, baik di depan maupun di balik layar.
Dua keutamaan Vinsensian yang paling saya rasakan adalah Kesederhanaan dan Kerendahan Hati. Dalam memerankan pasien, saya belajar untuk tampil apa adanya dan tidak berlebihan, serta menyadari bahwa keberhasilan pertunjukan bukanlah hasil usaha pribadi, melainkan kerja sama seluruh kelas dan penyertaan Tuhan.
Pesan dan kesan yang saya peroleh dari pengalaman ini sangat mendalam. Peran sebagai pasien mengajarkan saya tentang empati, keberanian dalam keterbatasan, serta pentingnya kemanusiaan. Saya belajar bahwa seseorang yang tampak lemah pun dapat menunjukkan kekuatan melalui sikap dan keteguhan hati. Ujian praktek ini bukan hanya sekadar penilaian akademik, tetapi menjadi proses pembentukan karakter dan pendewasaan diri yang akan saya ingat di masa mendatang.

