- Scriptwriter
Berdiskusi menentukan beberapa kandidat tokoh untuk diajukan, rapat bersama mulai menyusun naskah dialog, dan merevisi berulang kali agar tercipta sebuah naskah drama dr. Lo Siaw Ging – Life Over Wealth

2. Umum







3. MC Pagelaran Karya


4. Refleksi Pribadi
Ujian praktik melalui pagelaran drama musikal kelas menjadi salah satu proses pembelajaran paling bermakna yang pernah saya alami selama masa sekolah. Kegiatan ini tidak hanya menuntut kemampuan akademik dan keterampilan seni, tetapi juga mengajak saya untuk terlibat secara emosional, mental, dan spiritual. Dalam proses yang panjang dan penuh dinamika ini, saya belajar bahwa sebuah karya tidak pernah berdiri sendiri, melainkan lahir dari kerja sama, pengorbanan, dan ketulusan banyak pihak. Setiap latihan, diskusi, revisi, hingga konflik kecil yang terjadi justru menjadi ruang pembelajaran yang membentuk saya sebagai pribadi.
Tokoh yang kami angkat, Dr. Lo Siaw Ging, meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagi saya. Bagian hidup beliau yang paling menyentuh adalah ketika ia tetap menolong masyarakat meskipun mendapat penolakan, tekanan, dan demonstrasi hanya karena latar belakang etnisnya sebagai orang Tionghoa. Dalam situasi tersebut, Dr. Lo berada pada posisi yang tidak adil dan menyakitkan. Namun, ia tidak memilih untuk menjauh, membenci, atau berhenti melayani. Sebaliknya, ia tetap setia menjalani panggilannya sebagai dokter dengan melayani orang-orang yang membutuhkan tanpa memungut biaya. Sikap ini membuat saya merenung bahwa kasih sejati tidak menunggu kondisi ideal, tetapi justru hadir di tengah ketidakadilan. Dr. Lo mengajarkan bahwa kemanusiaan dan iman harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Nilai inilah yang menurut saya menjadi inti dari perjuangan hidup beliau dan sangat relevan dengan kehidupan saat ini.
Dalam proyek kolaboratif ujian praktik ini, saya mengambil peran sebagai anggota divisi script writer. Melalui refleksi saya, peran ini memiliki tanggung jawab besar karena naskah menjadi dasar utama bagi seluruh rangkaian pagelaran. Proses ini dimulai pada tanggal 12 September 2025, ketika kami menerima ketentuan pemilihan tokoh dalam pagelaran karya 2025. Salah satu ketentuan yang cukup menantang adalah keharusan memilih tokoh Katolik dari Indonesia, yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bersama anggota tim, kami berdiskusi cukup panjang untuk menentukan tokoh yang paling tepat dan relevan. Beberapa kandidat sempat dipertimbangkan, seperti Father Stuart Long, Romo Sandjaja, dan Romo Tondo. Namun, setelah melalui pertimbangan yang matang dari berbagai aspek, kami akhirnya sepakat memilih Dr. Lo Siaw Ging sebagai tokoh kelas kami.
Setelah tokoh ditentukan, proses penggalian kisah hidup Dr. Lo menjadi tahap yang menuntut ketekunan dan keseriusan. Kami tidak hanya mengandalkan informasi dari media daring, tetapi juga membeli dan mempelajari buku yang mengisahkan perjalanan hidup beliau. Dari proses ini, saya semakin memahami bahwa Dr. Lo bukan sekadar seorang dokter, tetapi seorang pribadi yang menghidupi nilai pengabdian secara utuh. Salah satu kalimat beliau yang paling membekas dalam diri saya adalah, “Kalau ingin kaya jangan jadi dokter, tapi jadilah pedagang.” Kalimat ini menjadi pengingat bahwa profesi dokter bagi Dr. Lo bukanlah sarana mencari keuntungan, melainkan panggilan untuk melayani sesama dengan tulus.
Proses penulisan naskah, penyusunan dialog, pembagian adegan, serta kerja sama antarscript writer berlangsung dari bulan September hingga Desember. Namun, tugas kami tidak berhenti di sana. Hingga bulan Januari 2026, masih terdapat beberapa revisi naskah yang menuntut kami untuk terus berdiskusi dan berkoordinasi. Proses ini sering kali melelahkan, terutama ketika ide yang telah disusun harus diubah atau dirombak kembali. Meski demikian, saya menyadari bahwa semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab kami agar cerita yang ditampilkan tetap kuat dan bermakna. Di samping peran sebagai script writer, saya juga berperan sebagai pembaca sinopsis menggunakan bahasa Indonesia serta menjadi salah satu pemeran demonstran dari tim kontra yang menentang Dr. Lo karena latar belakang etnisnya. Peran ini membantu saya lebih menghayati konflik batin dan sosial yang dialami tokoh Dr. Lo.
Dalam ujian praktik kali ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengambil peran yang cukup besar dan beragam. Selain menjadi anggota scriptwriter dan berperan sebagai pendemo dalam drama, saya juga dipercaya menjadi MC pagelaran untuk kelas XII A3 dengan judul “P.K. Ojong: Kompas of Truth”, bersama partner saya, Rygar. Bagi saya, pengalaman ini bukan hanya sekadar menjalankan tugas, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga secara pribadi maupun dalam kerja sama tim.
Menjadi MC juga melatih saya untuk lebih peka terhadap situasi. Ada momen-momen di mana saya harus cepat menyesuaikan diri, baik ketika terjadi jeda teknis maupun saat harus menjaga perhatian penonton. Saya belajar bahwa menjadi MC bukan hanya membaca teks, tetapi juga memahami suasana dan mampu menghidupkannya. Rasa gugup tentu ada, terutama menjelang hari-H. Namun, saya mencoba mengubah rasa gugup itu menjadi energi positif. Saya meyakinkan diri bahwa saya sudah berlatih dan mempersiapkan semuanya dengan baik.
Kerja sama dengan Rygar juga menjadi bagian penting dari pengalaman ini. Kami saling mengingatkan, mendukung, dan menenangkan satu sama lain ketika merasa tegang. Dari situ saya belajar bahwa keberhasilan sebuah penampilan bukan hanya karena kemampuan individu, tetapi juga karena kekuatan tim. Komunikasi dan saling percaya menjadi kunci utama.
Seperti di lagu Tulus – Tujuh Belas, ada satu lirik yang rasanya pas banget buat kita
“Dan kisah kita abadi untuk s’lama-lamanya.”
Menurutku itu yang paling menggambarkan kebersamaan kami, XII D2. Semua tawa waktu latihan, panik bareng sebelum naik panggung, dan segala capek yang kadang bikin pengen ngeluh tapi tetap dijalanin, semuanya bakal jadi cerita yang nggak bakal hilang.
Till we meet again, D2.
Thank you for the memories. 🤍
