Dari refleksi ujian praktik ini, saya bisa mengatakan bahwa ini merupakan pengalaman yang
berharga bagi saya secara akademis dan pribadi. Tokoh yang diangkat dalam ujian praktik kelas
kami adalah Dr. Lo Siaw Ging, seorang dokter yang dikenal karena pengabdiannya yang tanpa
pamrih kepada orang-orang miskin di Surakarta. Dari seluruh perjalanan hidupnya, bagian yang
paling menarik dan menyentuh bagi saya adalah keputusan Dr. Lo untuk mendirikan praktik
medis gratis selama beberapa dekade, terutama setelah ia mengalami penyakit serius akibat
leptospirosis dan hampir mati. Ia menganggap pengalaman itu sebagai tanda dari Tuhan untuk
mengabdikan hidupnya dalam melayani orang lain, terutama yang miskin. Alasan saya
menemukan bagian ini paling berkesan adalah karena Dr. Lo tidak hanya membantu secara
medis tetapi juga memanusiakan pasien-pasiennya. Ia tidak hanya “mengobati penyakit,” ia
adalah orang yang penuh kasih dan memiliki keberanian moral. Bahkan selama kerusuhan Mei
1998, ia tetap membuka praktiknya dan mengatakan bahwa semua orang berhak diperlakukan
sama. Ini menunjukkan rasa kemanusiaan yang kuat dan mengajarkan bahwa sebuah profesi
tidak hanya untuk mencari nafkah, tetapi untuk mendedikasikan diri pada sebuah tujuan.
Dalam proyek kolaboratif ujian praktik ini, saya berperan sebagai pasien anak dari Veronica,
wanita miskin yang dibantu oleh Dr. Lo. Peran ini mengharuskan saya untuk berempati dengan
kondisi ketidakberdayaan seorang anak dari keluarga miskin yang sangat bergantung pada
kebaikan hati orang lain. Dalam peran ini, saya belajar bagaimana mengungkapkan ketakutan,
harapan, dan ketergantungan secara tulus. Saya menyadari bahwa peran saya, meskipun kecil,
memiliki arti penting dalam menghidupkan pesan utama dari kisah Dr. Lo, yang tentang kasih
sayang terhadap yang kecil dan yang lemah. Refleksi peran ini membuat saya lebih peka
terhadap realitas sosial dan penderitaan yang sering diabaikan oleh orang-orang yang hidup
dalam kenyamanan.
Sepanjang ujian praktik ini, dua kebajikan Vinsensian yang paling mencolok dan benar-benar
saya rasakan adalah Humilitas dan Mansuetudo. Saya mempraktikkan Humilitas dengan
mengakui bahwa dalam peran sebagai pasien, saya berada dalam posisi yang lemah dan
sepenuhnya bergantung pada bantuan orang lain sebagaimana manusia bergantung pada Tuhan.
Sikap ini melatih saya untuk tidak menganggap diri saya yang paling mampu, tetapi lebih
terbuka dan jujur dalam belajar dan berkolaborasi dengan anggota tim. Sementara itu, saya
mengalami Mansuetudo melalui pengendalian diri, kesabaran, dan empati selama latihan dan
penampilan yang sebenarnya. Saya belajar untuk bersikap lembut, tidak egois, dan saling
mendukung satu sama lain agar pesan kemanusiaan dalam ujian praktik ini dapat tersampaikan
dengan baik. Secara keseluruhan, ujian praktik ini bukan hanya sekadar penilaian akademik,
tetapi juga pengalaman pembentukan karakter yang memperkaya nilai-nilai hidup saya sebagai
pelajar dan sebagai manusia.

Sebagai orang yang berdiri di kiri depan pada foto tersebut, aku merasa momen latihan ujian praktik di studio ini punya makna yang lebih dalam dari sekadar latihan biasa. Di posisi itu, aku bukan hanya tampil sebagai bagian dari adegan, tetapi juga memegang tanggung jawab membantu perpindahan properti antar scene. Peran ini mengajarkanku untuk peka terhadap timing, alur cerita, dan kebutuhan tim agar transisi berjalan lancar tanpa mengganggu jalannya pertunjukan. Selain itu, aku juga memerankan anak yang sakit dan dibantu oleh dokter Lo Siauw Ging. Tokoh Lo Siauw Ging dikenal sebagai sosok dokter yang peduli dan mengabdikan diri untuk membantu masyarakat kecil. Memerankan anak yang ditolong olehnya membuatku lebih memahami nilai empati, kemanusiaan, dan kepedulian sosial yang menjadi inti dari cerita tersebut. Relevansinya dengan ujian praktik ini sangat kuat. Ujian bukan hanya soal kemampuan teknis dalam berakting atau mengatur properti, tetapi juga tentang bagaimana kami menghidupkan nilai yang terkandung dalam cerita. Dari peran sebagai anak sakit, aku belajar mengekspresikan emosi secara lebih mendalam. Dari tanggung jawab di balik layar, aku belajar disiplin, kerja sama, dan kesiapan menghadapi situasi tak terduga.

Pada momen ini, kami berlatih menari dengan sungguh-sungguh sebagai satu tim sebelum demo scene 7 yang akhirnya diganti. Sebagai “team pro”, saya menghafal gerakan, tetapi juga menyatukan energi, kekompakan, dan ekspresi agar tampil maksimal. Walaupun scene 7 akhirnya diganti, proses latihan tersebut tetap bermakna. Kami belajar disiplin, saling mengingatkan gerakan, dan membangun chemistry tim. Dari situ aku menyadari bahwa yang terpenting bukan hanya hasil akhir atau scene yang ditampilkan, tetapi proses kerja keras dan solidaritas yang kami bangun bersama.

Pada momen ini, saya membantu menyiapkan dekor koran dengan mengelem dan menyatukannya untuk kebutuhan scene 7. Koran-koran tersebut akan dirobek dalam adegan musikal saat Dr. Lo dan Maria, istrinya, sedang berkonflik dan berusaha melarikan diri dari pendemo anti-Tionghoa. Proses ini mengajarkan saya bahwa properti sederhana seperti koran memiliki makna simbolis yang kuat—mewakili kekacauan, tekanan sosial, dan situasi mencekam dalam cerita. Dengan terlibat langsung dalam persiapan dekor, saya belajar bahwa keberhasilan sebuah scene tidak hanya bergantung pada pemeran utama, tetapi juga pada kesiapan tim di balik layar. Kerja sama, ketelitian, dan kesadaran akan konteks cerita menjadi kunci agar adegan emosional tersebut dapat tersampaikan dengan maksimal.

Pada latihan ini, saya berperan sebagai anak yang sakit. Saya mencoba mendalami ekspresi lemah, wajah menahan rasa tidak nyaman, serta bahasa tubuh yang lebih lambat dan lesu agar terlihat meyakinkan. Melalui latihan ini, saya belajar mengontrol mimik, intonasi suara, dan gerakan tubuh supaya emosi yang ditampilkan terasa alami, bukan dibuat-buat. Saya juga belajar membangun chemistry dengan pemeran lain, terutama saat ada adegan ditolong atau diperhatikan, agar hubungan antar tokoh terlihat nyata. Pengalaman ini melatih empati dan kemampuan menghayati peran secara lebih mendalam, sehingga karakter anak sakit dapat tersampaikan dengan lebih kuat dan menyentuh.

Pada uji makeup anak sakit ini, saya dirias oleh orang lain sehingga saya belajar untuk percaya dan bekerja sama dengan tim makeup. Riasan dibuat lebih pucat dan sedikit sayu di area mata agar menampilkan kesan lemah dan kurang sehat, sesuai dengan karakter. Melalui proses ini, saya menyadari bahwa komunikasi dengan tim sangat penting menyampaikan konsep karakter, menerima masukan, dan menyesuaikan detail agar hasilnya maksimal. Uji coba ini membantu memastikan tampilan sudah mendukung peran dan terlihat meyakinkan saat difoto maupun di atas panggung.

Latihan di bangsal ini menjadi tahap penting sebelum pagelaran. Di sini, kami tidak hanya mengulang adegan, tetapi juga memperbaiki banyak hal berdasarkan kritik dan arahan guru. Setiap masukan, baik tentang ekspresi, blocking, tempo dialog, maupun transisi, kami terima sebagai bahan evaluasi untuk tampil lebih matang. Selain itu, kami juga menyesuaikan gerakan dan emosi dengan musik produksi agar lebih selaras. Sinkronisasi antara akting, timing, dan iringan musik sangat menentukan suasana adegan. Proses ini mengajarkan kami untuk terbuka terhadap kritik, disiplin dalam memperbaiki kesalahan, serta bekerja sama agar hasil akhir lebih maksimal dan profesional.
