Nama Anggota: Brooklyn Aracelly Leticia/04, Efeny Gavrila Tomas/09, Emmanuella Valerine Ko/12, Ethan Alexander Lukman/13, Kevin Suryaputra/19, M.E.P Rachelle Jevana/21, Marvell Limantoro/22, Regina Christy Jayadi/31
Pada kegiatan praktik memasak kali ini, kelompok Side Quest dari kelas D2 mendapatkan tantangan untuk membuat dua hidangan berbeda, yaitu Beef Beijing sebagai menu utama dan Tanghulu sebagai makanan penutup. Kegiatan ini bertujuan melatih keterampilan memasak, kerjasama antaranggota, dan kemampuan menghadapi kendala secara langsung di lapangan.


Persiapan dimulai pada jam pelajaran Mandarin, yaitu jam terakhir pelajaran di hari itu. Karena waktu yang terbatas, kelompok Side Quest langsung bergerak cepat menyiapkan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan. Kami membagi dua kelompok ada yang membantu membuat Beef Beijing dan ada yang membuat Tanghulu. Kegiatan memasak dilakukan di depan kantin terang. Masing-masing anggota memiliki tugas: ada yang memotong bahan, ada yang menyiapkan bumbu, dan ada yang bertanggung jawab mengatur peralatan masak.
Kelompok yang pertama membuat Beef Beijing. Saat proses pembuatan dimulai, muncul beberapa kendala yang membuat kelompok harus berpikir cepat. Salah satunya, nasi yang seharusnya disajikan sebagai pendamping belum disiapkan, sehingga kelompok harus meminta nasi dari kantin. Hal ini tentu memakan waktu dan sedikit menghambat jalannya proses. Selain itu, api kompor yang digunakan sempat terlalu kecil di awal, menyebabkan proses memasak daging menjadi lama dan saus belum mengental seperti yang diharapkan. Meski sempat khawatir hidangan tidak akan selesai tepat waktu, kelompok tetap bekerja sama dengan baik. Beberapa anggota membantu mempercepat proses pemasakan sambil mengatur kembali takaran bumbu dan suhu api. Akhirnya, setelah melewati berbagai hambatan, produk Beef Beijing berhasil dibuat dengan hasil yang memuaskan—dagingnya empuk, rasanya gurih, dan tampilannya menarik.
Kelompok yang kedua membuat hidangan Tanghulu, camilan manis dari Tiongkok yang terbuat dari buah segar berlapis gula karamel. Proses pembuatan Tanghulu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kendala utama muncul saat membuat karamel: gula terlalu sering diaduk, sehingga sempat menjadi lengket dan tidak mengeras dengan sempurna. Kelompok juga sempat kesulitan menyesuaikan suhu api agar gula tidak gosong. Karena waktu semakin mepet, kelompok harus segera menyelesaikan pembuatan Tanghulu agar bisa disajikan tepat waktu untuk dinilai oleh guru.
Menariknya, saat waktu penyajian tiba, kelompok Side Quest sebenarnya belum sempat memastikan apakah lapisan gula pada Tanghulu sudah tidak lengket, karena hidangan harus segera disajikan untuk penilaian. Dengan waktu yang sangat terbatas akibat berbagai kendala selama proses pembuatan, kelompok hanya bisa berharap hasilnya sesuai harapan. Setelah disajikan dan diperiksa, ternyata karamel pada Tanghulu sudah mengeras dengan baik, tidak lengket, dan meskipun bentuknya kurang sempurna, hasil akhirnya tetap memuaskan. Seluruh anggota kelompok merasa lega dan bangga karena kedua hidangan, Beef Beijing dan Tanghulu, berhasil disajikan tepat waktu dengan rasa yang enak meskipun prosesnya dilakukan dalam kondisi terburu-buru dan penuh tantangan.
Dari kegiatan memasak ini, kelompok Side Quest belajar banyak hal penting: pentingnya persiapan yang matang sebelum memasak, koordinasi yang baik antaranggota, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi kendala waktu dan teknis. Walaupun sempat terburu-buru, harus meminta nasi tambahan, dan mengalami kesulitan saat membuat gula karamel, semua anggota merasa puas dengan hasil akhir. Kegiatan memasak di depan kantin Terang ini menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya seru, tetapi juga mempererat kebersamaan kelompok. Side Quest berhasil membuktikan bahwa dengan semangat, kerja sama, dan ketekunan, tantangan apa pun di dapur bisa dihadapi dengan baik, dan hasilnya pun bisa melebihi ekspektasi.




