pementasan
DR. LO SIAUW GING
Dalam ujian praktik tahun ini, kelas XII D2 memutuskan untuk mengangkat kisah inspiratif tentang Dr. Lo Siauw Ging, yang akan ditampilkan pada tanggal 13 Februari 2026 mendatang di Lazaris Hall, SMAK St. Louis 1 Surabaya. Kami terinspirasi oleh perjuangan beliau sebagai dokter kemanusiaan yang mengabdikan hidupnya untuk membantu masyarakat kecil tanpa memandang latar belakang. Dari naskah yang kami angkat, drama ini menceritakan perjalanan hidup beliau, keberaniannya menghadapi tekanan sosial, serta nilai kemanusiaan yang terus ia perjuangkan.

“Life Over Wealth”
Satu pesan utama yang ingin kami highlight dalam drama ini adalah “Life Over Wealth”, yaitu bahwa nilai kehidupan dan kemanusiaan jauh lebih berharga daripada kekayaan atau materi. Melalui kisah Dr. Lo Siauw Ging, kami ingin menunjukkan bahwa menjadi sukses bukan hanya tentang memiliki harta atau jabatan, tetapi tentang seberapa besar kita mau mengorbankan kenyamanan pribadi demi menolong orang lain. Prinsip ini tergambar dari keberanian beliau membela masyarakat kecil dan tetap teguh pada nilai kemanusiaan meskipun menghadapi tekanan. Pesan ini kami angkat agar penonton menyadari bahwa dalam hidup, pilihan untuk memprioritaskan kemanusiaan di atas kepentingan pribadi adalah bentuk kekayaan yang sesungguhnya.
Ide drama ini tidak muncul dari satu orang saja. Kami mengumpulkan dan menyatukan berbagai ide dari teman-teman sekelas. Setiap orang memberikan masukan, mulai dari konsep adegan, musik, transisi, hingga teknis panggung. Dari proses diskusi dan penyatuan gagasan tersebut, akhirnya kami berhasil mementaskan kisah inspiratif ini dalam bentuk drama musikal yang dikemas secara menarik dan emosional.


Salah satu bagian yang paling “gong” dan memukau penonton adalah saat klimaks di scene 7, yaitu adegan demonstrasi. Pada adegan ini, kami memanfaatkan kain-kain tidak terpakai menjadi karya seni yang memiliki nilai tambah. Kain putih kosong dibentangkan lebar di atas panggung dan digunakan sebagai layar bayangan. Dengan bantuan pantulan cahaya senter dari belakang kain, muncul siluet bayangan Dr. Lo dan Maria yang terlihat dramatis dan penuh makna. Efek bayangan tersebut menciptakan suasana yang kuat dan emosional tanpa perlu properti yang mahal.
Karena ukuran kain yang kami miliki tidak cukup panjang, kami menyatukan sisa-sisa kain tersebut dengan menempelkan koran di bagian tengahnya agar menjadi lebih lebar. Koran-koran itu tidak hanya berfungsi sebagai penyambung, tetapi juga menjadi simbol suasana sosial saat itu. Pada bagian klimaks, Dr. Lo keluar dengan cara merobek koran tersebut, yang melambangkan perlawanan dan keberanian untuk menembus tekanan. Agar tidak terlihat terlalu kosong, beberapa bagian kain dan koran kami beri cat dengan tulisan-tulisan demonstrasi sehingga semakin memperkuat suasana aksi massa.
Secara visual, adegan ini sederhana, namun justru karena kesederhanaannya itulah pesan terasa lebih kuat. Permainan cahaya, bayangan, kain putih, koran yang disatukan, dan aksi merobek di akhir adegan menciptakan momen yang sangat membekas bagi penonton.
KENDALA
Dalam pementasan ini, saya tidak hanya berperan sebagai aktor yang memainkan empat karakter di depan panggung, tetapi juga bekerja di belakang panggung sebagai sie publikasi dan sie kostum. Dari depan hingga belakang panggung, setiap bagian memiliki tantangan tersendiri. Pengalaman ini benar-benar melatih saya dalam koordinasi, manajemen waktu, kerja tim, serta kemampuan mengatasi berbagai kendala secara kreatif.
A. Kendala sebagai Aktor
Mengambil empat peran sekaligus tentu bukan hal yang mudah. Dari semua peran tersebut, yang paling sulit bagi saya adalah menjadi penari. Saya tidak memiliki latar belakang menari, sehingga pada awalnya saya merasa kurang percaya diri. Saya juga sempat heran mengapa saya dipilih menjadi salah satu dari enam penari di scene 1 dan 2. Namun, saya mencoba melihatnya sebagai bentuk kepercayaan dari teman-teman. Karena itu, saya berusaha tidak mengecewakan mereka.

Tantangan terbesar saat menari adalah menggunakan properti kipas. Kami harus menjaga agar kipas tidak terlilit saat bergerak. Setelah latihan pertama, tangan saya terasa sangat lemas dan sakit selama tiga hari karena belum terbiasa menggunakan kipas. Selain itu, saya juga mendapat beberapa masukan terkait detail gerakan yang kurang rapi. Walaupun sempat merasa down, saya tidak menyerah dan terus berlatih hingga akhirnya gerakan saya menjadi lebih baik.

Tantangan berikutnya adalah pergantian cepat dari scene 6 sebagai murid ke scene 7 sebagai pendemo. Saya hanya memiliki waktu sekitar 30 detik untuk mengganti atasan, bawahan, sepatu, memindahkan properti, mengoper mic clip on, dan memakai face paint. Pada awal latihan, saya beberapa kali hampir terlambat karena waktunya sangat sempit. Saya sempat pesimis, apalagi ukuran panggung asli lebih luas dibanding tempat latihan.
Untuk mengatasinya, saya memakai pakaian double sehingga hanya perlu melepas bagian luar saat pergantian. Untuk mic clip on, saya berkoordinasi dengan tim mic agar membantu mengoper mic saat transisi. Properti saya letakkan di tempat khusus agar tidak perlu mencarinya saat terburu-buru. Saat hari-H, orang yang bertugas memberi face paint tidak ada di tempat. Akhirnya, saya mengambil face paint yang masih basah dari wajah teman saya dan mengoleskannya sendiri agar tetap sesuai konsep.
Jauh-jauh hari, kami latihan sekitar 2–4 kali seminggu, tergantung kesibukan sekolah. Walaupun sempat terpotong ujian karya ilmiah, satu hari sebelum ujian tersebut kami masih berlatih hingga malam. Karena ujian ilmiah saya berlangsung di hari kedua, saya menggunakan waktu kosong di sekolah saat hari pertama untuk belajar, lalu sepulang sekolah langsung lanjut latihan.
Sebagai penari, saya juga harus latihan tambahan di luar jadwal latihan peran. Di sisi lain, saya memiliki banyak kursus dan ulangan. Semakin mendekati hari-H, latihan hampir dilakukan setiap hari sehingga saya tidak sempat mengikuti les selama satu minggu. Namun saya tetap bertanggung jawab sebagai pelajar dengan melakukan reschedule dan mengejar materi yang tertinggal.
Selain itu, karena kekurangan dana, kelas kami menerapkan peraturan untuk membayar Rp50.000–Rp100.000 setiap kali terlambat latihan. Peraturan ini membuat kami semakin disiplin. Suatu hari, saya hampir terlambat karena sulit mendapatkan driver, dan driver saya sempat tersasar. Prediksi waktu sampai pukul 10.20, sedangkan toleransi hanya sampai 10.15. Saya sangat panik. Setelah masuk mobil, mobil berjalan cukup santai sehingga saya semakin cemas.
Awalnya saya ragu untuk meminta driver mempercepat laju kendaraan. Namun akhirnya saya memberanikan diri untuk meminta beliau menaikkan kecepatan sedikit dengan tetap mengutamakan keselamatan. Syukurlah, saya mendapatkan driver yang baik dan penyabar. Ia tidak mengebut, tetapi dengan cerdas mencari jalan alternatif agar lebih cepat sampai. Berkat bantuannya, saya tiba tepat waktu dan terhindar dari denda. Sebagai bentuk terima kasih, saya memberinya uang tip.
Pelajaran sebagai aktor:
Saya belajar tentang disiplin, keberanian berkomunikasi, manajemen waktu, serta pentingnya mencari solusi dalam tekanan. Saya juga belajar bahwa rasa tidak percaya diri bisa diatasi dengan latihan dan kerja keras.
B. Kendala sebagai Sie Publikasi
Sebagai sie publikasi, saya bertugas mendokumentasikan kegiatan dalam format landscape dan mengedit video countdown. Tantangan terbesar adalah membagi waktu karena saya tampil di banyak scene, tetapi juga harus memastikan dokumentasi berjalan lancar.
Saya diminta mengedit dengan gaya serius, padahal biasanya saya mengedit dengan gaya lucu dan ceria yang penuh animasi dan sound effect. Awalnya saya bingung karena gaya serius lebih sederhana dan hanya mengandalkan teks serta sound. Saya mencari berbagai inspirasi di media sosial dan menggabungkannya hingga tercipta hasil editing versi saya sendiri. Saya cukup puas karena berhasil keluar dari zona nyaman.
Namun saat countdown H-1 sudah terupload, ditemukan kesalahan pengetikan. Saya panik karena sudah meng-uninstall aplikasi editing dan project history hilang setelah login ulang. Saya hampir menyerah karena harus mengulang semuanya. Namun setelah mencari satu per satu, saya menemukan file yang terhapus di folder trash Google Drive. Itu sangat membantu karena saya tidak perlu memulai dari nol.

Saya juga mengalami kendala penyimpanan HP yang penuh akibat banyaknya dokumentasi video berkualitas tinggi. Walaupun sudah menghapus file, memori tetap penuh. Akhirnya saya meminjam HP teman agar dokumentasi tetap maksimal.
Pelajaran sebagai sie publikasi:
Saya belajar untuk lebih teliti, tidak terburu-buru menghapus file, pentingnya backup data, serta berani mencoba hal baru di luar zona nyaman.
C. Kendala sebagai Sie Kostum

Sebagai sie kostum, tantangan utama adalah ide dan dana. Kami harus memahami kondisi setiap karakter agar kostum yang dipilih benar-benar sesuai dengan latar waktu dan sifat tokoh. Detail seperti warna pakaian, model, sepatu, hingga aksesoris harus diperhatikan.
Kami dituntut untuk sekreatif dan sedetail mungkin dalam mencari kostum tanpa mengorbankan banyak uang kas kelas. Tidak semua kebutuhan bisa dibeli begitu saja. Kami harus memanfaatkan barang yang sudah ada, meminjam dari teman, dan memadupadankan pakaian agar tetap terlihat realistis. Kami juga harus membandingkan harga sebelum membeli atau menyewa agar pengeluaran tetap terkendali.
Kendala muncul ketika rekening bendahara rusak sehingga sementara biaya harus ditanggung anggota sie kostum. Karena anggota kami sedikit, jumlah yang harus ditanggung cukup besar. Awalnya saya merasa keberatan. Namun syukurlah masalah rekening hanya sementara sehingga akhirnya saya tidak perlu benar-benar mengeluarkan dana pribadi.
Pelajaran sebagai sie kostum:
Saya belajar bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan biaya besar. Dengan ide yang matang dan kerja sama tim, kami bisa menghasilkan kostum yang detail dan sesuai karakter tanpa boros. Saya juga belajar tentang tanggung jawab keuangan dan perencanaan anggaran.
KESIMPULAN

Ujian praktik drama ini bukan hanya tentang tampil di atas panggung, tetapi tentang proses panjang yang penuh latihan, tekanan, kesalahan, dan solusi. Saya belajar bahwa keberhasilan lahir dari kerja keras, komunikasi, disiplin, dan kemampuan menghadapi masalah dengan tenang.
Menjalankan banyak peran sekaligus membuat saya lebih tangguh dan lebih terlatih dalam mengatur waktu. Drama ini bukan hanya ujian praktik, tetapi juga pelajaran berharga tentang tanggung jawab, kerja sama, dan kedewasaan.

