Debat, Intuisi, Rancangan, Revisi, Keindahan dan Manusia.

Secara terpaksa semesta menaruhku di sini kala itu, penulis naskah bersama empat sekawan lainnya. Judul grup whatsapp kami ‘penulis rawan hilang’, yang merupakan bekas perencanaan ingin mengunjukkan tokoh Wiji Thukul, seorang aktivis yang hilang akibat lantang menyuarakan keadilan yang awalnya kuusulkan karena beliau katolik dan sempat menginspirasiku kala SMP, walau, akhirnya tidak mendapatkan beliau dalam keputusan drama ini, penulisan tetap berjalan dengan keputusan dr. Lo sebagai tokoh yang diangkat. Dalam proses dinamika penulisan, sebagai sudut pandang pribadi yang menguruni dua scene, saya merasa belum penuh-penuh memberi. Kebingungan visi kian terasa selama pembentukannya. Namun semua harus tetap terkerjakan dan selesai. Suatu bentuk kerja sama ini selaras sekali dengan junjungan ideologi Soekarno, gotong royong, yang sahih menyelesaikan suatu masalah dengan lebih cepat nan efisien. Suatu rancangan baik, tepak, rampung nan kreatif akhirnya lahir menjadi suatu jilid final yang masih dilukis-kiaskan seraya berlatih. Terima kasih kesempatannya, teman-teman.

Ini kala bantu sedikit pekerjaan Mandy dan Ethan dalam pembuatan poster. Saya bukan dalam divisi pubdok (publikasi dokumentasi), saya tidak betul ingat pantik apa yang menyebabkan saya akhirnya membantu, entah Mandy waktu itu bertanya, atau saya yang mengkritisi suatu sisi dalam poster yang sudah terbentuk kala itu. Dalam dinamika uprak sedari awal aku berkata pada tangan dan kepala ini, kau bantu apa yang kau bisa, sam. Namun dalam batasan tidak ngeriwu’i atau bahasa lainnya cawe-cawe. Sementara yang teringat dan ada dokumentasi kala membantu spontan adalah peristiwa ini.

Ini sewaktu proses pembuatan trailer. Scene trailer ini aku yang mengusul. Penyelesaiannya dadakan dan akhirnya kehabisan waktu demikian tidak puas menghantui. Namun seperti prinsip hidup ini, semua harus tetap digaskan. Ku membantu editing video trailer ini serta kemudian.

Saya ada di sebelah kiri, memangku laptop. Oh kala itu, itu proses yang cukup lumayan panjang. Membuat heart beat dr. Lo melalui program adobe after effect dengan manual. Proses ini mengalami harapan yang kian tinggi lewat durasi pengerjaan berhrari-hari karena sempat kutunda beberapa saat. Ah menyenangkan mengerjakan hal itu. Semoga bisa menjadi berkah.
Peran saya sebagai sinopsis pengantar berbahasa Jawa dan sebagai demonstran yang mengikustrasikan kelompok-kelompok yang kontra rerhadap keetnisan khususnya Cina pada masa sembilan delapan kala itu. Peran ini kurefleksi tak banyak waktu untuk didalami hayat-hayat. Maka dalam prosesnya, khususnya ketika run-through scene, diri ini banyak waktu untuk menonton lebih-lebih dapat bersantai. Alih-alih demikian, sudah semestinya tubuh, pikiran dan energi ini dapat dimanfaatkan untuk yang lain. Meski pada keseluruhannya sahih diri ini tak banyak juga memberi kontribusi. Setidaknya saya tak banyak mengganggu kesenangan, suasana yang terjadi pada kelompok kelas ini. Sebenarnya dua minggu sebelum tampil, ada peran menari, namun oleh sutradara saya berpindah peran karena rancangan baru.
Kelembutan hati. Wow. Keseluruhan proses ini sungguh mencerminkan nilai itu. Melihat teman-teman hingga pemimpin (sutradara) sungguh ini damai. Kesederhanaan. Ini. Ini susah diuraikan. Karena proses yang terjadi biarlah terjadi demikian. Tak repot. Walau mungkin ada beberapa jiwa remaja yang mulai tumbuh sikap mama-mama, repot, cerewet, ribet. Namun secara keseluruhan. Ini kesederhanaan yang benar-benar‘kita lakukan apa yang kita bisa aja’.
Ini pengalaman yang menyenangkan bersama XII-D2, semoga kebersamaan terasa serta di refleksi teman-teman sekalian. Dan semoga saya dapat menjadi di dalam suatu kebersamaan itu lagi.

