Pada Selasa, 23 September 2025, kelas XII-D2 memperkenalkan dua hidangan khas asal Beijing dalam kegiatan side quest memasak yang diadakan di Pohon Cinta SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya. Hidangan yang dipilih adalah Tanghulu dan Beijing Beef, dua makanan yang meskipun sama-sama berasal dari ibu kota Tiongkok, memiliki latar sejarah dan cita rasa yang sangat berbeda.
Tanghulu merupakan camilan tradisional berbentuk tusukan buah yang dilapisi gula karamel keras, menyerupai permen buah. Asal usul Tanghulu dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Song Utara (960–1279 M). Menurut legenda yang banyak diceritakan di Beijing, camilan ini pertama kali diciptakan oleh seorang tabib istana untuk mengobati permaisuri Kaisar Guangzong dari Song. Saat itu, sang permaisuri kehilangan selera makan dan kesehatannya menurun. Tabib tersebut kemudian merebus buah hawthorn bersama gula dan menyarankan agar permaisuri memakannya secara teratur. Tidak lama kemudian, kondisi permaisuri membaik. Resep sederhana ini kemudian menyebar keluar dari istana dan menjadi populer di kalangan rakyat.
Nama Tanghulu berasal dari dua kata, yaitu tang yang berarti gula, dan hulu yang berarti labu, karena bentuknya menyerupai labu kecil saat ditusuk berderet di batang bambu. Pada awalnya, Tanghulu dibuat menggunakan buah hawthorn atau shan zha, yaitu buah merah kecil dengan rasa asam segar. Lapisan gula keras di luarnya tidak hanya menambah rasa manis, tetapi juga membantu mengawetkan buah di dalamnya. Inovasi ini sangat berguna pada musim dingin Beijing, ketika suhu rendah membuat buah sulit disimpan dalam waktu lama.
Pada masa Dinasti Ming dan Qing, Tanghulu menjadi jajanan rakyat yang sangat populer. Pedagang keliling sering menjajakan Tanghulu di depan kuil, pasar, dan sekolah. Anak-anak menyukainya karena warnanya yang cerah serta rasanya yang manis dan menyegarkan. Hingga kini, Tanghulu tetap menjadi simbol nostalgia masa kecil bagi warga Beijing. Seiring perkembangan zaman, bahan dasar Tanghulu tidak lagi terbatas pada hawthorn. Berbagai buah modern seperti stroberi, anggur, kiwi, jeruk, bahkan tomat ceri kini digunakan. Meski bahan dan bentuknya berkembang, filosofi Tanghulu tetap sama, yaitu kesederhanaan yang menghadirkan kebahagiaan dalam setiap gigitan.
Berbeda dengan Tanghulu yang berasal dari zaman kerajaan, Beijing Beef merupakan hasil perpaduan tradisi dan modernitas dalam dunia kuliner. Akar hidangan ini berasal dari teknik memasak Tiongkok kuno bernama guo bao rou, yaitu daging goreng garing yang disiram saus manis asam. Teknik ini awalnya digunakan di wilayah timur laut Tiongkok, namun kemudian diadaptasi oleh para juru masak di Beijing dengan tambahan bumbu khas setempat.
Sejak masa Dinasti Qing, masyarakat Beijing sudah menyukai masakan dengan rasa manis, gurih, dan sedikit pedas. Banyak juru masak istana yang mulai berinovasi dengan daging sapi, menciptakan hidangan yang memadukan kerenyahan dan rasa kaya bumbu. Dari sinilah lahir cikal bakal Beijing Beef.
Beijing Beef yang kita kenal sekarang terdiri dari potongan daging sapi tipis yang dibalut tepung, digoreng hingga garing, lalu dimasak bersama paprika, bawang bombai, dan cabai kering. Sausnya terbuat dari campuran kecap, gula, dan cuka yang menghasilkan rasa khas manis-gurih-pedas. Walau kini hidangan ini banyak dikenal lewat restoran internasional seperti Panda Express di Amerika Serikat, gaya masaknya tetap mengikuti ciri khas Beijing yang menonjolkan keseimbangan rasa.
Tanghulu dan Beijing Beef sama-sama mencerminkan dua sisi kuliner Beijing. Tanghulu menggambarkan kesederhanaan rakyat dan kenangan manis masa lalu, sedangkan Beijing Beef menunjukkan bagaimana tradisi bisa beradaptasi menjadi sesuatu yang baru tanpa kehilangan jati dirinya.
