Tanghulu adalah manisan buah tradisional Tiongkok yang memiliki sejarah panjang dan kaya makna budaya, terutama dalam konteks perayaan Imlek dan kehidupan sehari-hari masyarakat Tiongkok. Camilan ini terdiri dari buah-buahan yang ditusuk seperti sate, kemudian dilapisi dengan lapisan gula yang mengeras, menciptakan tekstur renyah di luar dan segar di dalam. Nama “Tanghulu” sendiri secara harfiah berarti “labu botol manisan”, merujuk pada bentuk tusuk sate yang menyerupai labu botol tradisional Tiongkok.
Sejarah Tanghulu dapat ditelusuri kembali ke masa Dinasti Song (960–1279 M), tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Guangzong (1147–1200). Legenda menyebutkan bahwa selir kesayangan sang kaisar jatuh sakit dan kehilangan nafsu makan. Para tabib istana gagal menyembuhkannya, hingga akhirnya seorang dokter dari luar istana menyarankan pengobatan berupa buah hawthorn yang direbus dengan gula dan air. Buah hawthorn, yang dikenal memiliki khasiat untuk membantu pencernaan, dikonsumsi dalam jumlah tertentu setiap hari selama dua minggu, dan selir tersebut pun sembuh. Keajaiban penyembuhan ini menyebar luas, dan masyarakat mulai membuat camilan dari buah hawthorn yang ditusuk dan dilapisi gula sebagai bentuk perayaan dan penghormatan.
Setelah menjadi terkenal, Tanghulu berkembang dari sekadar obat menjadi camilan populer, terutama di Tiongkok Utara seperti Beijing dan Tianjin. Pada awal abad ke-20, camilan ini mulai dijual secara luas di toko-toko makanan dan pasar tradisional. Karena teksturnya yang unik garing di luar dan asam-manis di dalam Tanghulu menjadi favorit keluarga kekaisaran dan rakyat jelata. Camilan ini biasanya dinikmati saat musim dingin, karena suhu rendah membantu lapisan gula tetap keras dan tidak meleleh.
Meskipun buah hawthorn tetap menjadi bahan utama tradisional, Tanghulu modern telah mengalami banyak inovasi. Kini, buah-buahan seperti stroberi, anggur, tomat ceri, jeruk mandarin, dan bahkan kiwi sering digunakan sebagai pengganti atau pelengkap. Beberapa penjual juga menambahkan rasa seperti jahe atau malt ke dalam sirup gula untuk menciptakan variasi rasa yang lebih kompleks. Di Indonesia, Tanghulu telah diterima sebagai camilan populer, dengan penjual lokal yang mampu menjual hingga puluhan porsi per hari, terutama menggunakan anggur sebagai bahan utama.
Tanghulu tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga memiliki makna simbolis dalam budaya Tiongkok. Dalam perayaan Imlek, Tanghulu melambangkan kebahagiaan, kesehatan, dan kemakmuran, karena warna merah buah hawthorn dan kilauan gula yang mengilap dianggap membawa keberuntungan. Selain itu, proses pembuatan Tanghulu yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran mencerminkan nilai-nilai tradisional seperti ketekunan dan keharmonisan. Keberadaannya yang bertahan selama lebih dari 800 tahun menunjukkan ketahanan budaya dan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Beijing Beef
Beijing Beef adalah hidangan daging sapi yang populer di masakan Tionghoa modern, terutama di Amerika Serikat sebagai bagian dari variasi Chinese-American cuisine. Namun dalam konteks sejarah kuliner asli Beijing, hidangan ini merupakan adaptasi dari cita rasa masakan tradisional Beijing yang menonjolkan saus manis gurih bercampur sedikit rasa pedas, dengan daging sapi sebagai bahan utama.
Berbeda dengan hidangan bebek Peking yang klasik dan sudah memiliki sejarah berabad-abad sebagai hidangan kekaisaran di Tiongkok, Beijing Beef lebih merupakan sajian yang dikembangkan di luar Tiongkok, khususnya di restoran Tionghoa di Amerika Serikat. Hidangan ini biasanya menggunakan potongan daging sapi yang digoreng dengan tepung hingga renyah, kemudian dimasak dengan saus berbasis kecap, gula, cuka, bawang putih, dan cabai sehingga menghasilkan rasa manis, asam, dan pedas yang khas dan menggiurkan.
Sejarah kuliner Beijing Beef berakar dari pengaruh masakan Cina klasik yang bertransformasi dan disesuaikan dengan selera Barat dalam proses imigrasi dan perdagangan kuliner. Ini menjadi contoh bagaimana masakan Tiongkok beradaptasi secara global dan menghadirkan hidangan yang menjadi favorit di luar negeri, meskipun bukan hidangan tradisional asli masyarakat Beijing.
Beijing Beef tidak memiliki sejarah panjang sebagai hidangan istana atau tradisional seperti Bebek Peking, namun tetap menjadi representasi penting dari pengembangan kuliner Tionghoa di dunia internasional. Ini menunjukkan dinamika dan evolusi kuliner yang menyesuaikan bahan dan rasa dengan preferensi lokal tanpa menghilangkan akar cita rasa Tionghoa yang otentik.
Jadi, Beijing Beef adalah hidangan yang lahir dari adaptasi kuliner, populer di restoran dengan sentuhan rasa manis-pedas dan tekstur renyah, mewakili ragam inovasi masakan Tionghoa modern dalam skala global.

